5 Langkah awal membuat sebuah cerita

Sudah lama tidak membuat posting soal menulis, padahal dalam blog saya ini ada kategori NULIS yang urutannya selalu di bawah karena hanya sedikit saja posting saya yang membahas soal menulis. Saat terpikir untuk membuat posting soal menulis tentu saja mencari sumber yang dapat menjadi acuan atau sumber referensi, saya ingat dulu pernah daftar di FLP (Forum Lingkar Pena) tapi saya tidak pernah membuat artikel disana, hanya membaca dan belajar menjadi seorang penulis.

Karena tidak terlalu serius menekuni bidang tulis-menulis, saya akhirnya hanya bisa menikmati hasil-hasil tulisan orang lain dan menjadikannya sebagai inspirasi saya. Kenapa untuk membuat cerita itu sulit? kalau menurut pengalaman pribadi saya problem utamanya adalah bagaimana mengawali sebuah cerita (tulisan).

Nah di FLP saya menemukan artikel yang mungkin bisa membantu saya untuk membuat cerita, berikut adalah lima langkah awal membuat sebuah cerita :

1. Mulailah dengan Dialog
“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)

2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit…. (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)

3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong…. Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)

Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami…. (Sirkus, cerpen Agus Noor)

4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

5. Mulailah dengan Seting Tempa
Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian…. (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)

Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan…. (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma).

Bagi yang ingin lebih banyak lagi mendapat ilmu soal menulis silahkan kunjungi FLP

Komentar anda merupakan tolak ukur, Terimakasih sebelumnya atas komentar yang anda berikan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s