Belenggu-Belenggu Menulis

Ersis Warmansyah Abbas *
Monday, 02 July 2007
 * Apabila Sampeyan mampu berpikir, pasti mampu ‘menuangkannya’. Menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, itulah menulis. Begitu mudahnya.Kalau ada yang bertanya tentang bagaimana cara menulis, jawaban standar saya: “Menulis itu gampang”. Begitu kata Arswendo Atmowiloto, penulis yang saya kagumi. Bagi saya, mudah, sangat mudah malahan. Memang secara teknis susah dicerna. Bisa pula terkategori kontroversial dan debatable. Wong jelas-jelas menulis itu susah. Faktanya, banyak orang ingin menulis tentang banyak hal, tapi tidak jadi-jadi. Menulis sebatas menjadi angan-angan belaka.Cobalah direnung-renung. Sejak SD, setelah Sampeyan bisa bicara, bukankah pelajaran prioritas berikutnya membaca dan menulis? Memang sih awalnya seperti: Ini Budi. Ini ibu Budi. Budi tidak berbudi.

Kemudian, sesuai dengan meningkatnya kemampuan, pendidikan dan wawasan, kita melangkah ‘belajar’ menuangkan pikiran. Awalnya dengan bicara, kemudian menuliskan apa yang ada di pikiran. Menulis berarti menuangkan pikiran.

Logikanya, kalau mampu berpikir, pasti tidak sulit menuangkannya. Kecuali, kalau menuangkan pikiran orang lain. Tentu, ceritanya akan lain, kalau memang tidak punya pikiran. Kalau tidak punya pikiran, kalau tidak berpikir, ya susah, tidak usah bermimpi menjadi penulis. Sebab, apa yang akan dituangkan, he … he … Menulis untuk orang berpikir dan cerdas. Orang yang berpendapat dirinya bodoh tidak hak jadi penulis.

Belakangan ada empat orang yang suka berdiskusi dengan saya, Dwi Atmono, Yudha Irhasyuarna, Syaharuddin, dan Faturrahman. Saya minta maaf kepada mereka, kalau konsultasi lebih sering diulu-ulu ketimbang diberi pengarahan. Hal itu tidak terlepas dari sikap saya, kalau ingin menjadi penulis, kalian tidak memerlukan guru. Guru menulis adalah diri sendiri. Saya baru memberi saran kalau tulisan mereka sudah ada. Buktinya, mereka cukup produkif menulis.

Percaya Diri
Ketika kuliah di pascasarjana IKIP Bandung, saya sering minun teh pagi di ruang Rektor (Abdul Kadir) atau di ruangn PR I, kini Rektor UPI Bandung (Fakry Gaffar). Ketika Lustrum VII IKIP Bandung, kini Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, membuat suplemen khusus di HU Pelita. Hebatnya, dibayar Rp10 juta (beasiswa Rp100 ribu sebulan, bandingkan nilainya).

Saya yakin, sekalipun mahasiswa, bisa diterima karena sering menulis. Penulis dan wartawaaaan, bo. Seingat saya, sekalipun di banua sudah menulis ratusan artikel, belum pernah ‘dihargai’ oleh petinggi kampus. Tidak apa-apa, lain lubuk lain ikan.

Bahkan, sering tulisan yang berbau kritik (konstruktif) malahan dihujat. Dosen kog memakai identitas petambak ikan. Emangnya kalau petambak ikan bisa menulis, kenapa dosen tidak? Coba, kalau dosen-dosen lebih piawai menulis di media cetak, pasti petambak ikan kalah. Iya kalo.

Saya ingin memberi tip, secara teoritis, salah satu yang mendorong suburnya budaya menulis adalah reward. Teori pendidikan juga demikian. Tapi, boleh jadi, Sampeyan tidak akan mendapatkannya. Boro-boro diberi penghargaan, banyak orang melihat dari sisi negatifnya. Karena itu, lupakan penghargaan. Menulislah karena ingin menulis.

Artinya, lingkungan yang seharusnya memberi dukungan, memberi penghargaan, menjelma menjadi belenggu. Hilangkan atau anggap tidak pernah ada belenggu itu. Jangan berharap, jangan pedulikan. Tancapkan prinsip, menulis bukan karena apa-apa, tapi karena memang ingin menulis. Menulis kebutuhan pribadi. Titik

Dibelenggu Guru
Masih ingat pelajaran tata bahasa di SD? Adalah Sutan Takdir Alisyahbana yang menulis buku Tata Bahasa Indonesia Baru di tahun 1957. Dalam buku itu dicontohkan kalimat aktif-pasif: “Ali memukul anjing. Anjing dipukul Ali”. Atau, kalau mengambar, sebagai penuangan imajinasi, dengan pola, ada gunung, sungai, matahari, dan pohon kelapa.

Puluhan tahun kemudian, contoh sedemikian masih saja digunakan di sekolah-sekolah. Padahal, kalau guru-guru kreatif, apa sih susahnya membuat contoh bermacam-macam dan beragam-ragam. Hingga, memicu dan memacu contoh kreatif yang tentunya dari guru yang kreatif pula. Menulis adalah anak kandung dari pikiran kreatif sebab dia lahir dari proses kreatif. Saya punya lelucon yang sebenarnya tidak lucu tapi bermakna.

Konon, begitu kisah satire saya, STA dinominasikan sebagai penerima hadiah Nobel Kesusasteraan oleh panitia hadiah Nobel Swedia. E … akhirnya ditolak. Ada apa? Ternyata, para juri adalah penyayang binatang. Apa hubungannya hingga STA tereleminasi?

Para juri tentunya punya alasan. Guru-guru Indonesia dinilai teramat kejam. Lho kog? Lah iya, coba berapa juta anjing yang dipukuli di kelas-kelas Indonesia gara-gara contoh di buku STA yang tidak pernah dikreatifi guru-guru. Yang ingin saya sampaikan, kreatifitas harus Anda tumbuhkan pada diri sendiri. Sistem pendidikan kita cenderung tidak mendorong kreatifitas. Masih banyak anggapan dari guru dan dosen, jika bertanya, apalagi kritis, dianggap nakal. Bayangkan kalau sampai merembet ke nilai, gawat bo. Bangkitkan proses kreatif dengan melupakan pengalaman pendidikan yang tidak kondusif.

Belenggu Aturan
Kalau belajar menulis, apalagi diajarkan di kelas, biasanya disodorkan seperangkat aturan. Mulai dari tata bahasa, subyek, obyek, predikat sampai pelengkap (penderita) atau struktur tulisan didahului pendahuluan, masalah, bahasan sampai simpulan. Belum lagi wajib memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar plus seabreg aturan lainnya.

Tentu saja semua itu tidak salah, malahan begitulah idealnya. Tapi, Anda kan belajar menulis. Sebagai pelajar, penulis pemula pula, hal itu menjadi belenggu yang menghantui hingga berakibat merasa salah melulu ketika menulis. Anjuran saya, campakkan saja belenggu-belenggu tersebut. Nanti, kalau sudah mahir atau ketika menulis makalah atau skripsi, ya gunakan aturan tersebut.

Karena itu, abaikan saja aturan tersebut. Kalau ingin menulis, tulis saja, habis perkara. Soal aturan kebahasaan, biarlah menjadi urusan ahli bahasa. Pernah ke Bali? Anak-anak ingusan bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Kenapa? Karena dipraktekkan. Dari SD sampai PT Sampeyan belajar bahasa Inggris, kog ngak lancar-lancar? Bisa jadi, Itu dosa guru dan dosen sebab mereka mengajarkan seakan-akan Sampeyan akan ‘dicetak menjadi ahli bahasa. Terlalu tinggi.

Coba bayangkan, kalau pembelajaran berfokus membaca atau menulis dengan cara mudah, Insya Allah, Sampeyan mahir berbahasa Inggris. Wong anak-anak ingusan di Kuta dan Sanur saja mampu. Apalagi yang lahir dan besar di Inggris, he … he …

Begitu juga dengan menulis. Untuk menjadi penulis kan tidak harus menjadi ahli bahasa. Banyak lho, mereka yang mengaku-ngaku ahli bahasa, guru bahasa, tidak piawai menulis. Nah, kalau kepada orang seperti itu belajar menulis, ngawur namanya. Kalau mencari guru, tanyai dulu, mana mana tulisannya? Kalau tidak ada, ya sudah. Bagaimana mungkin belajar dari mereka. Jangan-jangan hanya akan menyalahkan saja apa yang Sampeyan tulis. Pintar-pintarlah mencari guru.

Lebih bagus belajar menulis melalui tulisan penulis, tidak kepada orangnya. Dari penulis cukup agar termotivasi, jangan sekali-kali ‘pikiran’ dan ‘style’, sebab itu tidak mungkin. Pikiran ada di otak masing-masing. Belajarkan diri sendiri dengan mencari masukan sebanyak mungkin. Camkan, bahasa adalah sarana penyaluran pikiran. Itu saja cukup. Tinggal, bagaimana merakit agar enak dibaca dan perlu.

Belenggu Takut Salah
Belenggu yang paling kejam adalah takut. Takut salah, takut dipersalahkan, takut tidak dibaca orang, takut ini, itu, ita, ite dan saudara-saudaranya. Kalau sudah dimulai dengan berbagai ketakutan, ya susah. Kalau ingin menjadi penulis, bebaskan diri dari belenggu ketakutan.

Bayangkan, para koruptor yang menjarah uang negara bertriliun-triliun saja tidak takut. Mereka yakin, korupsi di Indonesia adalah ‘profesi’ nyaman. Buktinya, negara kita dikategorikan sebagai negara dengan tingkat korupsi membanggakan, berada di garda paling depan. Toh, cuek-bebek saja. Korupsi gede-gede, lalu buron, habis perkara. Atau, ada yang disidangkan, toh tidak terbukti. Koruptor saja berani, masak jadi penulis nggak berani.

Santai saja. Yakin saja. Kalau salah dalam menulis, mudah-mudahan penegak hukum republik ini tidak menganggap lebih parah dari korupsi. Asal Anda tidak nyerempet-nyerempet SARA. Kalau yang satu ini, di utak-atik, wah saya tidak jamin lho. Artinya, hilangkan ketakutan.

Oh ya, supaya belenggu takut salah jangan jadi permanen, tidak usahlah belajar menulis pada orang lain. Ajari saja diri sendiri dengan melakukannya, langsung menulis. Kalau ada penataran atau orientasi menulis, sejauh pada tataran pemberian motivasi atau pengalaman proses kreatif, OK-lah. Tapi, kalau cara menulis dengan seabreg aturan, tidak usahlah. Apalagi berguru kepada mereka yang tidak kreatif menulis. Bodoh itu.

Teori menulis itu bagus. Hanya saja, kalau dengan teori itu kita jadi takut atau terbelenggu, kan menjadi kontra produktif. Baiknya menulis saja yang dilatih, nanti kalau sudah lancar baru ditingkatkan kualitasnya dengan teori atau aturan yang bagus-bagus. Mudah-mudahan tip sederhana seperti terpapar, bisa menjadi pemotivasi dalam belajar menulis. Bujur nah, menulis itu mudah kog

Dikutip Dari buntetpesantren.com

Komentar anda merupakan tolak ukur, Terimakasih sebelumnya atas komentar yang anda berikan.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s